Rabu, 11 Mei 2011

Jejak Serigala Yang tak Pernah Tidur

Jejak Serigala yang Tak Pernah Tidur


PAGI di Pulau Brownsea, Inggris selatan, 1 Agus tus 2007. Ini Rabu yang menggigil: 15 derajat Celsius. Tiga ratus pramuka dari seluruh dunia merapatkan diri, membentuk lingkaran mengelilingi bendera Organisasi Pramuka Sedunia berukuran raksasa yang digeletakkan di tanah lapangan upacara.
Tepat pukul delapan, Peter Duncan meniup trompet yang biasa digunakan kepala suku Kudu di Afrika. Twooot... twooot... twooot.... Tak berapa lama, 300 remaja itu langsung mengangkat tiga jari sejajar dengan kepala. Terdengar Janji Pramuka yang di ucapkan dalam bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, dan Arab.
"Demi kehormatanku, aku berjanji: Menjalan kan kewajibanku terhadap Tuhan dan negeriku. Meno long setiap orang dan menepati Darma Pramuka." Ke tua Organisasi Pramuka Inggris, Peter Duncan, kemudian memimpin acara salam-salaman untuk para remaja dari 158 negara itu.
Gabriel Munoz dari Kolombia-yang membacakan janji dalam bahasa Spanyol-mengaku merin ding mengikuti upacara Scouting Sunrise itu. Acara itu memperingati 100 tahun berdirinya Organisasi Pramuka Sedunia (World Organization of the Scout Movement). "Saya ingin merasakan bagaimana mereka dulu berkemah dalam udara dingin," kata remaja 16 tahun ini.
Gabriel sedang mengenang perkemahan yang diadakan Mayor Jenderal Robert Baden-Powell bersama 22 remaja London di Pulau Brownsea, tepat seratus tahun lalu.
lll
SERATUS tahun lalu, tepatnya 1-9 Agustus 1907, Baden Powell, pahlawan Inggris dalam Perang Boer di Afrika Selatan, memilih 22 remaja London berkemah di Pulau Brownsea.
Saat itu ia miris melihat kenakalan remaja yang merebak di London dan kota-kota industri lainnya di Inggris. Perkemahan itu menjadi ajang uji coba gagas annya mengenai pendidikan nonformal bagi anak muda.
Salah satu peserta perkemahan itu adalah Arthur Primmer. Dalam sebuah wawancara dengan Scouting Magazine tahun 1999, Arthur ingat betapa menggetarkannya acara api unggun pada malam itu. Saat itulah Baden-Powell menceritakan pekerjaannya dalam dinas militer Inggris di India, Afganistan, dan Afrika. Peserta perkemahan membentuk lingkaran, sementara Baden-Powell berdiri di tengah-tengah di sisi bara api. "Itu menjadi malam yang sangat menyenangkan pada musim panas," kata Arthur kepada Scouting Magazine.
Selama delapan hari, 22 remaja itu digembleng kedisiplinan, ketahanan fisik dan mental, serta kekompakan dalam regu. Kepada mereka juga diajarkan keterampilan mencari jejak, mengirim pesan, meng amati hewan, dan pertolongan pertama pada kecelakaan. Baden-Powell membangkitkan patriotisme para remaja melalui cerita-cerita petualangannya di hutan belantara India dan Afrika. Suku Zulu di Afri ka memberinya nama Impeesa atau serigala yang tidak pernah tidur. Maklum, Baden-Powell bisa tidur lelap sambil bersender di pohon. Dia juga dikenal jago dalam mencari jejak dan melakukan penyelidikan ke daerah musuh.
Ternyata kegiatan di Pulau Brownsea mendapat sambutan luas dari masyarakat dan Raja Edward VII. Kerajaan Inggris menganugerahkan gelar Lord Baden-Powell of Gilwell. Metode pendidikan kepramukaan yang diterapkan dalam perkemahan pertama kali tersebut menjadi salah satu pilar berdiri nya Organisasi Pramuka Sedunia. Baden-Powell, pensiunan jenderal Kerajaan Inggris, pada 1920 ditahbiskan sebagai Bapak Pramuka Sedunia. Bagi sebagian anggota pramuka, Pulau Brownsea kemudian menjadi "kota suci".
lll
DI "kota suci" inilah pramuka sedunia pada Agustus lalu berkumpul. "Saya datang ke sini dengan perasaan bergetar," ujar Gabriel Munoz, yang mendapat cerita dari pembinanya tentang arti penting pulau ini. Hana Pasic, 15 tahun, dari Bosnia, mengaku bangga bisa menjadi saksi sejarah peringatan 100 tahun kepramukaan. Dia juga senang karena mendapat kawan baru dari seluruh dunia.
Perasaan senada disuarakan Andrie Ryan Sidharta, anggota Gerakan Pramuka Indonesia. Dari acara itu, pelajar kelas 3 SMP Aloysius, Bandung, ini mendapat informasi kepramukaan di banyak negara. Dia juga kagum dengan lokasi perkemahan di Brownsea. "Pemandangannya bagus, berada di pinggir tebing menghadap pantai," katanya.
Gabriel, Hana, dan Andrie dipilih negaranya mengikuti perkemahan selama tiga hari di Brownsea. Mereka adalah peserta Jambore Dunia 2007 yang diselenggarakan di Hylands Parks, Kota Chelmsford, Essex, Inggris, pada 27 Juli hingga 8 Agustus 2007. Jambore Dunia yang ke-21 ini diikuti 40 ribu pramuka penggalang usia 14-17 tahun. Selain itu ada 12 ribu orang dewasa yang menjadi panitia dan pimpinan kontingen tiap negara. Setiap negara lantas mengirimkan dua pramuka penggalang (putra dan putri) mengikuti Scouting Sunrise di Pulau Brownsea.
Acara di Pulau Brownsea itu disiarkan secara langsung melalui tiga layar raksasa di lapangan utama Hylands Parks. Sekitar 50 ribu anggota pramuka dari 158 negara ini juga memperingati Scouting Sunrise. Mereka mengucapkan Janji Pramuka dan mendengarkan doa yang dikumandangkan menurut ajaran Kristiani, Islam, Hindu, Buddha, dan kepercayaan lainnya.
lll
PAGI itu, Hylands Parks menjadi kuning ketika ribuan anggota kepanduan melambaikan scarf kuning diiringi lagu berjudul You are My Brother dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Spanyol. Di Hylands Parks, suasana persaudaraan benar-benar terjadi. Anggota pramuka dewasa berpegangan tangan dan memberikan tanda tangan pada scarf itu. Ada pula yang tukar-menukar badge, topi, bahkan baju seragam pramuka.
Di atas panggung muncul Ketua Organisasi Pramuka Sedunia Herman Hui dan Lord Baden-Powell III, cucu Lord Baden-Powell of Gilwell. "Kakek saya membentuk organisasi ini agar bisa menjadi salah satu alat mencapai perdamaian dunia," kata Baden Powell III, yang bernama asli Robert Crause. Sang kakek, katanya, sangat senang melihat bagaimana benih yang ditanam dapat tumbuh di dalamnya. "Ingat kata-kata Baden-Powell of Gilwell, jadikan hidup ini bahagia dan berkemahlah dengan baik," katanya.
Ia menyitir kalimat kakeknya itu, mungkin karena prihatin atas kecenderungan banyak anak remaja sekarang yang tak lagi antusias dengan organisasi kepramukaan. Globalisasi yang ditandai teknologi serba komputer mempengaruhi minat sebagian remaja menjadi anggota organisasi ini. "Mereka lebih tertarik Internet dan play station," kata Anna Hueni, anggota pramuka dari Swiss yang kuliah di Universitas Zurich. Menurut Anna, citra pramuka di negaranya lebih banyak sekadar kegiatan keluar- m asuk hutan.
Penilaian senada juga diungkapkan Stefek Lada, pembina pramuka dari Kroasia. Menurut dia, sejak tahun 1990-an banyak berdiri organisasi kepemudaan di negaranya. Banyak remaja akhirnya lebih tertarik bergabung ke organisasi baru tersebut. "Kegiatan mereka lebih menarik dan bervariasi," ujarnya.
Abdul Jalil Manan dari Brunei juga menyebut beberapa organisasi baru yang menye rupai kepramukaan di negaranya. Ada kadet kepolisian, ketentaraan, dan aneka macam kegiatan olahraga bagi generasi muda. "Budak-budak itu ingin yang instan, tidak mau pengorbanan," kata Jalil, yang pernah menjadi peserta Jambore Dunia tahun 1957 di Birmingham, Inggris.
Sejatinya, Organisasi Pramuka Sedunia telah memperkenalkan teknologi informasi dalam setiap ke giatannya. Pada awal Agustus lalu, organisasi ini menjalin kerja sama dengan World Community Grid. Melalui komputer dan Internet, para anggota pramuka menjadi relawan komunitas maya yang mengelola hasil penelitian dan melakukan aktivitas sosial menghadapi kelaparan, penyakit AIDS, kanker, dan bencana kemanusiaan lainnya.
Sekretaris Jenderal Organisasi Pramuka Sedunia, Eduardo Missoni, juga mengajak mantan anggota pramuka bergabung dalam tim itu. Dia optimistis metode pendidikan kepramukaan masih relevan dengan kondisi saat ini. Lord Baden-Powell III yakin, andai kata kakeknya saat ini masih hidup, ia bakal mengunduh lagu-lagu kesukaannya dalam pemutar MP3. "Dia bakal menggunakan laptop dan mengirim email ke teman-temannya di penjuru dunia," katanya kepada peserta Jambore Dunia 2007. Sang kakek, ujarnya, senang berkelana dan berkomunikasi dengan banyak orang.
Baden-Powell III mengajak anggota pramuka di berbagai belahan bumi mewujudkan mimpi bersama, se perti yang pernah ditulis sang kakek pada 1937. "Semua orang di berbagai negeri menginginkan perdamaian, kebahagiaan, dan kesejahtera an." Peringatan 100 tahun kepramukaan dan Jambore Dunia, katanya, menjadi satu langkah mewujudkan mimpi itu.

Bapak Pandu Sedunia

Robert Baden-Powell


Robert Baden-Powell,
1st Baron Baden-Powell
22 February 1857 – 8 Januari 1941 (umur 83)
Robert Baden-Powell
Pendiri Kepanduan
Nama julukan B-P
Tempat kelahiran Paddington, London, Inggris
Tempat kematian Nyeri, Kenya
Dinas/cabang Tentara Britania
Lama berdinas 1876–1910
Pangkat Letnan Jenderal
Komando Chief of Staff, Second Matabele War (1896–1897),
ke-5 Dragoon Guards in India (1897),
Inspector General of Cavalry, England (1903)
Pertempuran/perang Perang Anglo-Ashanti,
Perang Matabele Kedua,
Siege of Mafeking,
Perang Boer Kedua
Penghargaan Ashanti Star (1895),[1]
Matabele Campaign, British South Africa Company Medal (1896),[2]
Queen's South Africa Medal (1899),[3]
King's South Africa Medal ( 1902),[4]
Boy Scouts Silver Wolf
Boy Scouts Silver Buffalo Award (1926),[5]
World Scout Committee Bronze Wolf (1935),[6]
Order of Merit (1937),
Wateler Peace Prize (1937),
Order of St Michael and St George,
Royal Victorian Order,
Order of the Bath
Pekerjaan lain Pendiri Gerakan Kepanduan Internasional; penulis; seniman
Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, 1st Baron Baden-Powell, OM, GCMG, GCVO, KCB (lahir di Paddington, London, Inggris, 22 Februari 1857 – meninggal di Nyeri, Kenya, 8 Januari 1941 pada umur 83 tahun) ialah tentara, penulis dan pendiri gerakan kepanduan dunia.

Kehidupan awal

Baden-Powell dilahirkan di Paddington, London pada 1857. Dia adalah anak ke-6 dari 8 anak profesor Savilian yang mengajar geometri di Oxford. Ayahnya, pendeta Harry Baden-Powell, meninggal ketika dia berusia 3 tahun, dan ia dibesarkan oleh ibunya, Henrietta Grace Smith, seorang wanita yang berketetapan bahwa anak-anaknya harus berhasil. Baden-Powell berkata tentang ibunya pada 1933, "Rahasia keberhasilan saya adalah ibu saya."
Selepas menghadiri Rose Hill School, Tunbridge Wells, Baden-Powell dianugerahi beasiswa untuk sekolah umum Charterhouse. Perkenalannya kepada kemahiran pramuka adalah memburu dan memasak hewan - dan menghindari guru - di hutan yang berdekatan, yang juga merupakan kawasan terlarang. Dia juga bermain piano dan biola, mampu melukis dengan baik dengan menggunakan kedua belah tangan dengan tangkas, dan gemar bermain drama. Masa liburan dihabiskan dengan ekspedisi belayar atau berkanu dengan saudara-saudaranya.
Dia mengarang beberapa buku, di antaranya yakni jungle book, girl guides, scouiting for boys, aids to scouting, rovering to succes

Karier Ketentaraan

Pada tahun 1876, Baden-Powell bergabung dengan 13th Hussars di India. Pada tahun 1895 dia bertugas dengan dinas khusus di Afrika dan pulang ke India pada tahun 1897 untuk memimpin 5th Dragoon Guards.
Baden-Powell saling berlatih dan mengasah kemahiran kepanduannya dengan suku Zulu pada awal 1880-an di jajahan Natal Afrika Selatan di mana resimennya ditempatkan dan ia diberi penghargaan karena keberaniannya. Ada 3 penghargaan yang diberi angkatan perang Zulu yaitu:
  • impeesa : serigala yang tak pernah tidur, karena dia sering berjaga-jaga saat malam.
  • kantankye : orang pemakai topi lebar, karena dia selalu memakai topi lebar.
  • m'hlalapanzi: orang bertiarap yang siap menembak.
Kemahirannya mengagumkan dan dia kemudian dipindahkan ke dinas rahasia Inggris. Dia sering bertugas dengan menyamar sebagai pengumpul kupu-kupu, memasukkan rancangan instalasi militer ke dalam lukisan-lukisan sayap kupu-kupunya.
Baden-Powell kemudian ditempatkan di dinas rahasia selama 3 tahun di daerah Mediterania yang berbasis di Malta. Dia kemudian memimpin gerakan ketentaraannya yang berhasil di Ashanti, Afrika, dan pada usia 40 dipromosikan untuk memimpin 5th Dragoon Guards pada tahun 1897. Beberapa tahun kemudian, dia menulis buku panduan ringkas bertajuk "Aids to Scouting", ringkasan ceramah yang dia berikan mengenai peninjau ketentaraan, untuk membantu melatih perekrutan tentara baru. Menggunakan buku ini dan kaidah lain, ia melatih mereka untuk berpikir sendiri, menggunakan daya usaha sendiri, dan untuk bertahan hidup dalam hutan.
Baden-Powell kembali ke Afrika Selatan sebelum Perang Boer dan terlibat dalam beberapa tindakan melawan Zulu. Dinaikkan pangkatnya pada masa Perang Boer menjadi kolonel termuda dalam dinas ketentaraan Britania, dia bertanggung jawab untuk organisasi pasukan perintis yang membantu tentara biasa. Ketika merencanakan hal ini, dia terperangkap dalam pengepungan Mafeking, dan dikelilingi oleh tentara Boer yang melebihi 8.000 orang. Walaupun berjumlah lebih kecil, garnisun itu berhasil bertahan dalam pengepungan selama 217 hari. Sebagian besar keberhasilan itu dikatakan sebagai hasil beberapa muslihat yang dilaksanakan atas perintah Baden-Powell sebagai komandan garnisun. Ranjau-ranjau palsu ditanam, dan tentaranya diperintah untuk menghindari pagar kawat olok-olok (tidak ada) saat bergerak antara parit kubu.
Baden-Powell melaksanakan kebanyakan kerja peninjauan secara pribadi dan membina pasukan kanak-kanak asli untuk berjaga dan membawa pesan-pesan, kadang menembus pertahanan lawan. Banyak dari anak-anak ini kehilangan nyawanya dalam melaksanakan tugas. Baden-Powell amat kagum dengan keberanian mereka dan kesungguhan mereka yang ditunjukkan ketika melaksanakan tugas. Pengepungan itu dibubarkan oleh Pembebasan Mafeking pada 16 Mei 1900. Naik pangkat sebagai Mayor Jendral, Baden-Powell menjadi pahlawan nasional.
Setelah mengurusi pasukan polisi Afrika Selatan Baden-Powell kembali ke Inggris untuk bertugas sebagai Inspektur Jendral pasukan berkuda pada tahun 1903.

Pulang ke Inggris

Setelah kembali, Baden-Powell mendapati buku panduan ketentaraannya "Aids to Scouting" telah menjadi buku terlaris, dan telah digunakan oleh para guru dan organisasi pemuda.
Kembali dari pertemuan dengan pendiri Boys' Brigade, Sir William Alexander Smith, Baden-Powell memutuskan untuk menulis kembali Aids to Scouting agar sesuai dengan pembaca remaja, dan pada tahun 1907 membuat satu perkemahan di Brownsea Island bersama dengan 22 anak lelaki yang berlatar belakang berbeda, untuk menguji sebagian dari idenya. Buku "Scouting for Boys" kemudian diterbitkan pada tahun 1908 dalam 6 jilid.
Kanak-kanak remaja membentuk "Scout Troops" secara spontan dan gerakan Pramuka berdiri tanpa sengaja, pada mulanya pada tingkat nasional, dan kemudian pada tingkat internasional. Gerakan pramuka berkembang seiring dengan Boys' Brigade. Suatu pertemuan untuk semua pramuka diadakan di Crystal Palace di London pada 1908, di mana Baden-Powell menemukan gerakan Pandu Puteri yang pertama. Pandu Puteri kemudian didirikan pada tahun 1910 di bawah pengawasan saudara perempuan Baden-Powell, Agnes Baden-Powell.
Walaupun dia sebenarnya dapat menjadi Panglima Tertinggi, Baden Powell memuutuskan untuk berhenti dari tentara pada tahun 1910 dengan pangkat Letnan Jendral menuruti nasihat Raja Edward VII, yang mengusulkan bahawa ia lebih baik melayani negaranya dengan memajukan gerakan Pramuka.
Pada Januari 1912 Baden-Powell bertemu calon isterinya Olave Soames di atas kapal penumpang (Arcadia) dalam perjalanan ke New York untuk memulai Lawatan Pramuka Dunia. Olave berusia 23, Baden-Powell 55, dan mereka berkongsi tanggal lahir. Mereka bertunangan pada September tahun yang sama dan menjadi sensasi pers, mungkin karena ketenaran Baden-Powell, karena perbedaan usia seperti itu lazim pada saat itu. Untuk menghindari gangguan pihak pers, mereka melangsungkan pernikahan secara rahasia pada 30 Oktober 1912. Dikatakan bahwa Baden-Powell hanya memiliki satu petualangan lain dengan wanita (pertunganannya yang gagal dengan Juliette Magill Kinzie Gordon).
Pramuka Inggris menyumbang satu penny masing-masing dan mereka membelikan Baden-Powel hadiah pernikahan, yaitu sebuah mobil Rolls Royce. ‹‹‹›››

Perang Dunia I dan kejadian-kejadian selanjutnya

Ketika pecah Perang Dunia I pada tahun 1914, Baden-Powell menawarkan dirinya kepada Jabatan Perang. Tiada tanggung jawab diberikan kepada beliau, sebab, seperti yang dikatakan oleh Lord Kitchener: "dia bisa mendapatkan beberapa divisi umum dengan mudah tetapi dia tidak dapat mencari orang yang mampu meneruskan usaha baik Boy Scouts." Kabar angin menyatakan Baden-Powell terkait dalam kegiatan spionase dan dinas rahasia berusaha untuk menggalakkan mitos tersebut.
Baden-Powell dianugerahi gelar Baronet pada tahun 1922, dan bergelar Baron Baden-Powell, dari Gilwell dalam County Essex, pada tahun 1929. Taman Gilwell adalah tempat latihan Pemimpin Pramuka Internasional. Baden-Powell dianugerahi Order of Merit dalam sistem penghormatan Inggris pada tahun 1937, dan dianugerahi 28 gelar lain dari negara-negara asing.
Dalam sajak singkat yang ia tulis, ia menjelaskan bagaimana mengucapkan namanya:
Man, Nation, Maiden
Please call it Baden.
Further, for Powell
Rhyme it with Noël.
Dibawah usaha gigihnya pergerakan Pramuka dunia berkembang. Pada tahun 1922 terdapat lebih dari sejuta pramuka di 32 negara; pada tahun 1939 jumlah pramuka melebihi 3,3 juta orang.
Keluarga Baden-Powell memiliki tiga anak – satu anak laki-laki dan dua perempuan (yang mendapat gelar-gelar kehormatan pada 1929; anak laki-lakinya kemudian menggantikan ayahnya pada 1941:
  • Peter, kemudian 2nd Baron Baden-Powell (1913-1962)
  • Hon. Heather Baden-Powell (1915-1986)
  • Hon. Betty Baden-Powell (1917-2004) yang pada 1936 menikah dengan Gervase Charles Robert Clay (lahir 1912 dan memiliki 3 anak laki-laki dan 1 perempuan)
Tidak lama selepas menikah, Baden-Powell berhadapan dengan masalah kesehatan, dan mengalami beberapa serangan penyakit. Ia menderita sakit kepala terus menerus, yang dianggap dokternya berasal dari gangguan psikosomatis dan dirawat dengan analisa mimpi. Sakit kepala ini berhenti setelah ia tidak lagi tidur dengan Olave dan pindah ke kamar tidur baru di balkon rumahnya. Pada tahun 1934 prostatenya dibuang, dan pada tahun 1939 dia pindah ke sebuah rumah yang dibangunnya di Kenya, negara yang pernah dilawatinya untuk berehat. Dia meninggal dan dimakamkan di Kenya, di Nyeri, dekat Gunung Kenya, pada 8 Januari 1941.
Pada 1938 Royal Academy of Sweden menganugerahkan Lord Baden-Powell dan semua gerakan Pramuka hadiah Nobel Perdamaian untuk tahun 1939. Tapi pada 1939 Royal Academy memutuskan untuk tidak menganugerahkan hadiah untuk tahun itu, karena pecahnya Perang Dunia II.
Pergerakan Pramuka dan Pandu Puteri merayakan 22 Februari sebagai hari B-P, tanggal lahir bersama Robert dan Olave Baden-Powell, untuk memperingati dan meraikan jasa Ketua Pramuka dan Ketua Pandu Puteri Dunia.

Mengenai ketertarikannya pada anak laki-laki

Dua penulis biografi Baden-Powell, Michael Rosenthal dari Columbia University dan Tim Jeal, menganggap bahwa ia adalah homoseksual yang tertekan. Buku Tim Jeal yang diriset selama lebih dari 5 tahun, diterbitkan oleh Yale University Press dan diterima dengan baik oleh New York Times, Washington Post dan penerbitan-penerbitan terkemuka lain.
Selain bukti-bukti lain, Jeal menyebutkan suatu contoh kejadian di bulan November 1919. Ketika mengunjungi Charterhouse, sekolahnya dulu, Baden-Powell tinggal bersama teman lamanya, A. H. Tod, seorang guru lajang dan pemilik rumah yang telah mengambil foto-foto telanjang murid-muridnya sebagai bagian dari kumpulan foto mengenai sekolah. Dalam buku hariannya, Baden-Powell menulis tentang hal ini: "Tinggal dengan Tod. Foto-foto anak laki-laki telanjang dan pohon-pohon yang diambil oleh Tod. Bagus sekali." Dalam surat-surat selanjutnya kepada Tod mengenai memulai gerakan Pramuka di sekolah itu, Baden-Powell menyebut bahwa ia akan segera berkunjung kembali dan menambahkan: "Mungkin saya ingin melihat kembali foto-fotomu yang indah itu."
Foto-foto Tod bertahan sampai tahun 1960-an, ketika mereka dihancurkan mungkin untuk "melindungi reputasi Tod." Namun R. Jenkyns mengatakan bahwa album tersebut mengandung foto-foto anak laki-laki telanjang dalam pose-pose yang, menurut pendapatnya, "dibuat-buat dan artifisial." Tidak ada alasan untuk mencurigai bahwa Tod atau Powell memiliki tujuan buruk, dan foto-foto tersebut dibuat sesuai dengan tradisi pada saat itu mengenai seni yang juga ditampilkan dalam lukisan-lukisan Henry Scott Tuke, foto-foto Baron Wilhelm von Gloeden, dan lain-lain.
Jeal juga menyebutkan bahwa Baden-Powell "...tetap memuji tubuh laki-laki ketika telanjang dan merendahkan tubuh wanita. Di Gilwell park, tempat perkemahan Pramuka di hutan Epping, ia selalu menikmati pemandangan anak-anak laki-laki berenang telanjang, dan kadang-kadang berbincang dengan mereka setelah mereka 'melepas baju mereka.'" (pembicaraan pribadi antara Jeal dan anggota-anggota Pramuka lama).
Walaupun menikmati keindahan anak-anak laki-laki, Baden-Powell tidak diketahui pernah bertindak dalam ketertarikannya dengan anak laki-laki. Sebaliknya, ia sangat teguh berpendapat untuk menekan keinginan seksual, terutama dalam komunikasinya dengan anak-anak laki-laki. Ia memasukkan larangan yang jelas melawan masturbasi dalam panduan-panduan Pramuka awal (sedemikian jelasnya sehingga Cox, penerbitnya, menolak untuk mencetak hal ini sebelum bahasanya diperhalus), dan sampai usia 80-an terus bersurat dengan anggota-anggota Pramuka dan memerintahkan mereka untuk mengendalikan keinginan mereka untuk "merusak diri sendiri." Ia percaya pada pendapat saat itu bahwa hal ini menyebabkan penyakit, kegilaan dan impotensi seksual. Pandangan-pandangannya tidak disetujui oleh semua orang. Dr. F. W. W. Griffin, editor The Scouter, menulis pada 1930 dalam buku untuk Rover Scouts bahwa godaan untuk bermasturbasi adalah "tahapan yang cukup alami dalam perkembangan" dan merujukkan anggota-anggota Pramuka kepada sebuah buku oleh H. Havelock Ellis yang berpendapat bahwa "usaha untuk mencapai hidup tanpa seks adalah kesalahan serius."

Kamis, 03 Februari 2011

Tragedi Mesir Berdarah 2011

Mesir Berdarah January 2011
Mesir Berdarah January 2011
Metrotainment.net – Mesir sedang dilanda kerusuhan, pemberontakan terbesar kepada pemerintah yang pernah ada dalam sejarah Mesir.
Aksi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan sejak 25 Januari 2011 silam ini diawali dengan muaknya masyarakat atas keadaan negara dibawah pimpinan sang presiden, Hosni Mubarak.
Keadaan Mesir dirasakan semakin carut marut. Sikap otoriter yang diusung Mubarak seakan tidak memperbaiki apapun. Malah memperburuk keadaan.
Harga pangan yang melambung tinggi, pengangguran meningkat, tidak ada kebebasan berbicara, hingga kemarahan rakyat atas tindakan korupsi yang merajalela.
Selama 32 tahun menjabat sebagai kepala negara, Mubarak diduga telah melakukan banyak tindakan korupsi. Apalagi mengingat bahwa istri beliau sudah masuk dalam klub miliarder sejak 2000 silam.
Egyptian Demonstrators In Central Cairo January 25, 2011
Egyptian Demonstrators In Central Cairo January 25, 2011
Kedua anaknya juga memiliki sejumlah properti, real estate, hingga kapal pesiar. Dan jumlah kekayaan anak petani ini mencapai angka 360 triliun selama dirinya memegang kendalis ebagai presiden.
Namun dalam pemerintahan Mubarak, keadaan di Mesir memang cenderung menjadi stabil. Sejak berkuasa pada tahun 1981, Mubarak membangun hubungan baik dengan negara-negara Barat dan Israel. Namun di balik kestabilan yang dicapainya, korupsi, kemiskinan dan penindasan oleh negara tumbuh subur di negara Afrika  Utara itu.
Berikut ini adalah kronologis kerusuhan di Mesir
Januari 2011 kesadaran aktivis bahwa selama ini keadaan di Mesir sangat kacau muncul. Para aktivis pun mengajak seluruh rakyat untuk turun ke jalanan dan melakukan berbagai kegiatan seperti pemberantasan kemiskinan, korupsi, dan menggulingkan otoriter presiden yang telah menjabat selama tiga dekade tersebut.
25 Januari 2011. Tanggal 25 ini merupakan peringatan ulang tahun kepolisian. Dan rakyat Mesir memperingatinya dengan turun ke jalanan dalam jumlah masa dan menyebutnya sebagai The Day of Anger (Hari Kemarahan). Protes terjadi di seluruh jantung Mesir. Polisi bahkan menembakan gas air mata, meriam air, dan peluru karet untuk menenangkan para demonstran. Jam malam (18.00 -7.00) mulai diberlakukan di negara piramida ini.
Egypt - The Day Af Anger
Egypt - The Day Af Anger
26 Januari 2011. Bentrokan kembali terjadi. seorang saksi mata mengatakan bahwa peluru tajam telah ditembakkan. Bahkan Mubarak telah memberikan perintah untuk tembak di tempat jika diperlukan.
27 Januari 2011. Seorang mantan kepala pengawas nuklir PBB, Mohamed ElBaradei, kini bergabung dengan para aktivis. Ratusan orang telah ditangkap. Dan sisanya tetap berseru “Turunlah Mubarak!” Bentrokan kembali terjadi. Baku tembak dan darah mengalir di mana-mana. Jaringan Facebook, Twitter, dan Blackberry Messenger terganggu.
28 Januari 2011. Jaringan Internet dan Short Massage Service (SMS) mati total.
Hingga berita ini diturunkan, di Mesir masih terjadi bentrokan yang mengakibatkan sedikitnya 150 orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka, baik dari pihak demonstran maupun dari pihak yang berwajib.
Kabarnya, jaringan internet, SMS, dan telepon diputus karena para aktivis tersebut menyebarkan ajakan mereka untuk mengkudeta pemerintahan dilakukan lewat media masa tersebut.
Mesir Berdarah 2011
Mesir Berdarah 2011
Di dalam tubuh demontran ini terbagi menjadi dua. Ada yang protes karena digerakkan oleh salah seorang tokoh Mesir, Mohamed ElBaradei -mantan bos badan atom PBB, IAEA. Atau di sisi lain memberontak untuk  memperkuat barisan demonstrasi gerakan berpengaruh berhaluan Islam, Ikhwanul Muslimin.
Bentrokan yang tak kunjung usai ini pun mulai meresahkan para warga yang tidak ikut berpartisipasi. Toko-toko di jalanan habis dijarah. Museum dan tempat-tempat bersejarah lainnya juga ikut dirusak massa. Bahkan kepolisian menjaga ketat beberapa warisan kebudayaan seperti piramida dan sphynx.
”Ini akhir kebungkaman, kebisuan, kepasrahan atas perkembangan di negara kami”
Egypt - The Day Of Anger
Egypt - The Day Of Anger
Lalu bagaimana dengan nasib WNI di Mesir?
Data terakhir Kementerian Luar Negeri menyebutkan, Warga Negara Indonesia yang berada di Mesir sebanyak 6.149 orang, terdiri dari 4.297 mahasiswa, 1.002 tenaga kerja, dan staf KBRI serta keluarganya. Saat ini, mereka membangun komunikasi di 20 posko.
Pemerintah bahkan telah menyediakan pesawat dari maskapai Garuda Indonesia, Lion Air, dan Sriwijaya Air untuk langsung terbang ke Mesir. Tim evakuasi dipimpin Wakil Kasau Marsdya TNI Sukirno dan telah berangkat ke Mesir pada Senin (31/1) malam. Pada evakuasi tahap awal, yang menjadi prioritas adalah anak-anak dan perempuan yang jumlahnya mencapai sekitar 1.200 orang.
TNI juga telah menyiapkan tim dan lima pesawat angkut C-130 Hercules untuk mengevakuasi WNI yang terjebak kisruh politik di Mesir. Namun ada beberapa mahasiswa yang tidak ingin pulang karena khawatir akan sulit kembali ke tanah Mesir lagi.
Sumber-sumber ANTARA melaporkan sejumlah negara seperti Cina juga mengevakuasi para warganya dari Mesir dan mengeluarkan peringatan agar tidak melakukan perjalanan ke negara di Afrika Utara itu untuk sementara waktu sampai situasi keamanan di sana stabil.
Akankah aspirasi rakyat kini didengarkan? Ataukah sang presiden lebih mementingkan jaabatannya dan menutup mata ketika ratusan orang tewas memperjuangkan suaranya? (Angela Kartawijaya)